Apa yang Dimaksud dengan Sejarah Objektif dan Sejarah Subjektif

Sejarah objektif dan sejarah subjektif adalah dua pendekatan berbeda dalam menafsirkan dan menggambarkan peristiwa sejarah. Sejarah objektif bersifat sangat akademis dan berusaha untuk mencapai kesetaraan dalam memperoleh informasi, sedangkan sejarah subjektif lebih personal dan dipengaruhi oleh sudut pandang pribadi. Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan antara kedua pendekatan ini dan bagaimana keduanya dapat berguna dalam memahami sejarah.

Sejarah Objektif

Sejarah objektif adalah pendekatan sejarah yang cenderung lebih akademis dan sangat didasarkan pada fakta-fakta. Tujuan dari sejarah objektif adalah untuk merekonstruksi peristiwa sejarah seperti yang terjadi sebanyak mungkin. Penulis sejarah objektif mencari informasi dari catatan-catatan sejarah, dokumen, dan sumber-sumber lainnya. Pendekatan ini berkaitan erat dengan seluk-beluk sejarah dan sangat dipengaruhi oleh metodologi penelitian sejarah.

Keuntungan Sejarah Objektif

  • Reliabilitas tertinggi: Sejarah objektif berusaha untuk mencapai reliabilitas yang tinggi dalam memperoleh informasi. Dalam penelitian sejarah, seorang penulis cenderung lebih kritis dalam menafsirkan informasi yang mereka kumpulkan, dan mereka bertujuan untuk mencari kemungkinan sumber bias dan kesalahan yang mungkin terjadi.

  • Perspektif yang luas: Dalam sejarah objektif, penulis mencoba untuk menafsirkan peristiwa sejarah dari berbagai perspektif. Peneliti menganalisis sumber-sumber sejarah yang berasal dari berbagai sumber dan kemudian memutuskan apakah fakta tersebut dapat dipercayai atau tidak. Hal ini menyiratkan bahwa sejarah objektif dapat membantu kita memahami peristiwa sejarah dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

  • Menampilkan fakta dan bukan opini: Sejarah objektif mencoba untuk menampilkan fakta semata-mata, dan bukan opini dari penulis sejarah. Hal ini membantu orang memahami peristiwa sejarah sesuai dengan apa yang terjadi, dan bukan sesuai dengan sudut pandang penulis.

Kekurangan Sejarah Objektif

  • Keterbatasan: Karena sifat sejarah objektif yang sangat mengandalkan catatan sejarah, sumber-sumber yang tersedia cenderung kurang lengkap.

  • Bias: Meskipun sejarah objektif mencoba untuk menghindari bias, kesalahan interpretasi dapat terjadi apabila peneliti memilih sumber-sumber tertentu dari data yang tersedia atau dalam analisis mereka sendiri.

Sejarah Subjektif

Sejarah subjektif, di sisi lain, bergantung pada sudut pandang penulis dan pengalaman pribadinya dalam menafsirkan peristiwa sejarah. Sejarah subjektif bermaksud memberikan sudut pandang pribadi dalam menafsirkan peristiwa dan pengalaman sejarah. Hal ini sering kali dipandang sebagai sisi yang lebih manusiawi dari sejarah. Peneliti sejarah melakukan analisis dari persepsi diri dan pengalaman mereka sendiri untuk memberikan sebuah gambaran yang lebih lengkap dari peristiwa sejarah.

Keuntungan Sejarah Subjektif

  • Pribadi: Dalam sejarah subjektif, penulis memiliki keleluasaan dalam menggambarkan peristiwanya. Sejarah subjektif dapat dengan mudah menjadi membuka kembali bayangan seseorang dan pengalaman pribadi dengan peristiwa sejarah tertentu, dan sebagai hasilnya, dapat membawa kesan yang sangat emosional dan membantu kita lebih memahami pengalaman manusia.

  • Tidak representatif: Penulis dapat menciptakan latar belakang, tempat dan waktu, serta karakter fiksi yang cocok dengan peristiwa sejarah itu sendiri. Ini membuka peluang yang tidak terbatas untuk memotret peristiwa sejarah dengan cara yang berbeda.

  • Bahasa yang jelas: Sejarah subjektif, dengan sudut pandang yang sangat pribadi, mampu mengekspresikan peristiwa sejarah dengan gaya yang berbeda berdasarkan sudut pandang penulis.

Kekurangan Sejarah Subjektif

  • Berdasarkan pada sudut pandang seseorang, penulis dapat merekayasa peristiwa sejarah sedemikian rupa sehingga menjadi sangat subjektif.

  • Penulis dapat menambahkan opini ke dalam karya mereka membuatnya terlihat tendensius dan membuatnya mungkin untuk memutar fakta sejarah itu sendiri.

Kesimpulan

Kedua pendekatan – sejarah subjektif dan sejarah objektif – memainkan peran penting dalam memahami peristiwa sejarah. Dalam sejarah objektif, peneliti berusaha untuk mengembalikan peristiwa sejarah sesuai dengan fakta semata-mata tanpa bias. Di lain sisi, sejarah subjektif sering kali mencoba untuk lebih fokus pada pengalaman pribadi penulis dan pada sudut pandang mereka ketika melakukan analisis. Untuk memahami sejarah secara keseluruhan, penting bagi kita untuk melihat kedua pendekatan dalam konteks mereka masing-masing.

Written by Dian Purnama

Dian Purnama adalah seorang penulis artikel ilmu pengetahuan dengan keahlian dalam bidang psikologi dan kesehatan mental. Dengan gelar sarjana dalam Psikologi, Dian berusaha untuk membagikan pengetahuan tentang kehidupan manusia, emosi, dan kesejahteraan mental kepada pembaca. Ia memiliki dedikasi yang tinggi dalam membantu orang untuk memahami dan mengatasi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Teks Cerita Sejarah Harus Disesuaikan Dengan

Baju Adat Khas Bali: Memperlihatkan Keindahan Budaya Bali